Stunting adalah kekurangan gizi yang berlangsung lama pada bayi di 1.000 hari pertama kehidupan mereka, sehingga menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Kondisi gagal tumbuh kembang ini tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan anak, tapi juga kecerdasan mereka.
Menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan
menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi
dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.
Kementerian Kesehatan mengumumkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Rapat Kerja
Nasional BKKBN, Rabu (25/01)dimana prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,4% di tahun 2021
menjadi 21,6% di 2022. Hasil SSGI ini untuk mengukur target stunting di Indonesia. Sebelumnya SSGI
diukur 3 tahun sekali sampai 5 tahun sekali. Menkes mengatakan mulai 2021 SSGI dilakukan setiap tahun.
Penurunan stunting ini terjadi di masa pandemi bukan terjadi di masa biasa. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengharapkan di masa yang normal tahun ini penurunan kasus stunting diharapkan bisa lebih tajam lagi sehingga target penurunan stunting di angka 14% di 2024 dapat tercapai. Secara jumlah yang paling banyak penurunan angka stunting adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Banten.
Perlu diketahui bahwa tidak semua balita pendek itu stunting, sehingga perlu dibedakan oleh dokter
anak,tetapi anak yang stunting pasti pendek.
BAHAYA STUNTING
Dampak kesehatan:
a) Gagal tumbuh (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus), hambatan perkembangan kognitif dan motoric.
b) Gangguan metabolik pada saat dewasa → risiko penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke,
penyakit jantung, dan lain sebagainya).
Jika tidak ditangani dengan tepat, stunting bisa menimbulkan dampak jangka panjang pada kesehatan
anak. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
a) Gangguan perkembangan otak yang mengganggu proses belajar dan menurunkan prestasi anak ke depannya
b) Sering sakit dan mudah terkena infeksi.
Dampak ekonomi :
Berpotensi menimbulkan kerugian setiap tahunnya : 2-3 % GDP.
Gejala Stunting
Gejala stunting umumnya bisa terlihat saat anak berusia 2 tahun. Namun, hal ini sering tidak disadari, atau malah disalahartikan sebagai perawakan pendek yang normal.
Gejala dan tanda-tanda yang bisa menunjukkan anak mengalami stunting adalah:
Tinggi badan anak lebih pendek daripada tinggi badan anak seusianya
Berat badan tidak meningkat secara konsisten
Tahap perkembangan yang terlambat dibandingkan anak seusianya
Tidak aktif bermain
Sering lemas
Mudah terserang penyakit, terutama infeksi
Penyebab Stunting
Ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya stunting, antara lain yaitu :
1. Asupan kalori yang tidak adekuat.
a) Faktor sosio-ekonomi (kemiskinan).
b) Pendidikan dan pengetahuan yang rendah mengenai praktik pemberian makan untuk bayi dan batita (kecukupan ASI).
c) Peranan protein hewani dalam MPASI.
d) Penelantaran
e) Pengaruh budaya
f) Ketersediaan bahan makanan setempat.
2. Kebutuhan yang meningkat.
a. Penyakit jantung bawaan.
b. Alergi susu sapi.
c. Bayi berat badan lahir sangat rendah.
d. Kelainan metabolisme bawaan.
e. Infeksi kronik yang disebabkan kebersihan personal dan lingkungan yang buruk (diare kronis) dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi (Tuberculosis / TBC, difteri, pertussis, dan campak).
APA PERAN REMAJA DALAM MENGHADAPI STUNTING?
Masalah anemia merupakan masalah lama yang paling sering ditemukan di sepanjang daur hidup wanita, termasuk dikalangan remaja. Hal ini tentu akan memiliki dampak berkepanjangan, karena remaja yang anemia akan rentan anemia juga saat dewasa, terutama saat hamil dan menyusui.
Ibu yang anemia cenderung melahirkan anak yang juga anemia jika tidak terdeteksi dan tidak tertangani dengan baik. Menstruasi akan semakin meningkatkan risiko anemia pada remaja, sehingga sangat disarankan untuk dapat meningkatkan konsumsi makanan dan minuman kaya zat besi seperti dari daging merah rendah lemak, seafood, sayuran berdaun hijau seperti bayam, brokoli dan asparagus, kacang kacangan, buah golongan berries, semangka dan delima atau makanan yang telah difortifikasi zat besi.
Remaja yang anemia sering mengeluh lemah, lesu, loyo, lunglai dan tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik akibat kemampuan kognitif dan daya ingat yang menurun.
Ditambah dengan minimnya edukasi tentang kesehatan reproduksi di sekolah, tentu saja remaja wanita yang kelak menjadi ibu ini akan sulit menjadi agen pencegahan stunting.
Remaja yang malnutrisi, jika tidak diperbaiki, akan menjadi ibu hamil yang malnutrisi. Ibu hamil yang malnutrisi kemudian melahirkan bayi yang malnutrisi. Bayi yang malnustrisi ini kemudian akan menjadi anak yang stunting.
Singkatnya, kita perlu mengedukasi para remaja terutama remaja perempuan, tentang bahayanya stunting, serta memberitahukan tentang pentingnya mengonsumsi makanan bergizi.
Para remaja perlu memperbaiki pola makan mereka agar mendapat gizi yang cukup dan baik demi “menutus mata rantai” stunting ini. Para remaja harus memperhatikan bahwa makanan yang mereka konsumsi itu mengandung bahan makan yang diolah dengan cara yang baik sehingga bisa memenuhi kebutuhan gizi mereka.
BAGAIMANA MENGOBATI STUNTING?
Pengobatan stunting adalah dengan mengatasi penyakit penyebabnya,memperbaiki asupan nutrisi,
memberikan suplemen, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Berikut adalah tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter:
Mengobati penyakit yang mendasarinya, misalnya memberikan obat-obatan antituberkulosis bila anak menderita TBC
Memberikan suplemen vitamin A, zinc, zat besi, kalsium, dan yodium
Memberikan penyuluhan kepada orang tua agar memenuhi kebutuhan nutrisi anak
Keberhasilan pengobatan stunting pada anak juga sangat bergantung pada upaya orang tua dan keluarga.
Upaya yang dapat dilakukan adalah:
Memberikan nutrisi yang tepat dan lengkap lewat MPASI atau makanan pokok, berupa makanan yang kaya protein hewani, lemak, dan kalori
Membawa anak untuk kontrol rutin ke dokter jika ia menderita penyakit kronis
Memeriksakan tinggi dan berat badan anak secara berkala
Memperbaiki sanitasi di rumah dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) guna mencapai keluarga yang sehat
APAKAH STUNTING DAPAT DICEGAH?
Tentu, stunting dapat dicegah. Berikut beberapa tips mencegah stunting :
1. Saat Remaja Putri
Skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah.
2. Saat Masa Kehamilan
Disarankan untuk rutin memeriksakan kondisi kehamilan ke dokter. Perlu juga memenuhi asupan nutrisi yang baik selama kehamilan. Dengan makanan sehat dan juga asupan mineral seperti zat besi, asam folat, dan yodium harus tercukupi.
3. Balita
a) Terapkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).
Sesaat setelah bayi lahir, segera lakukan IMD agar berhasil menjalankan ASI Eksklusif. Setelah itu, lakukan pemeriksaan ke dokter atau ke Posyandu dan Puskesmas secara berkala untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.
b) Imunisasi
Perhatikan jadwal imunisasi rutin yang diterapkan oleh Pemerintah agar anak terlindungi dari
berbagai macam penyakit.
c) ASI Eksklusif
Berikan ASI eksklusif sampai anak berusia 6 (enam) bulan dan diteruskan dengan MPASI yang sehat dan bergizi.
d) Pemantauan tumbuh kembang à weight faltering.
4. Gaya Hidup Bersih dan Sehat
Terapkan gaya hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan sebelum makan, memastikan air yang diminum merupakan air bersih, buang air besar di jamban, sanitasi sehat, dan lain sebagainya.
____________________________
Penulis: Aisah Sashy Meylani Putri Muhid
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar Prodi Administrasi Kesehatan


















