Oleh: Abdul Rahman
Tanggal 1 Juni selalu mengingatkan bangsa ini akan fondasi ideologis yang kokoh: Pancasila. Dalam suasana memperingati Hari Lahir Pancasila, kita diajak untuk merenungkan kembali nilai-nilai luhur yang menjadi penopang kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam dunia pers dan jurnalistik.
Di tengah era digital yang penuh gempuran hoaks, ujaran kebencian, dan komodifikasi informasi, jurnalisme tidak bisa lagi didekati dengan semangat pragmatis. Profesi ini membutuhkan integritas moral, kecakapan intelektual, dan komitmen kebangsaan, sebuah semangat yang sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
Momentum ini bertepatan dengan bergulirnya sejumlah Konferensi Cabang (Konpercab) PWI di berbagai daerah di Sulawesi Selatan, termasuk di Kota Parepare. Ini bukanlah peristiwa biasa. Ia adalah panggung demokrasi kecil yang menentukan arah masa depan organisasi kewartawanan tertua di negeri ini. Pertanyaannya sederhana namun mendalam: PWI ingin dibawa ke mana?
Kita tidak sedang butuh ketua yang hanya ingin “terpilih”. Kita butuh pemimpin yang hadir dengan integritas, kapasitas, dan komitmen nyata. Pemimpin yang mampu menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam praksis organisasi, dari musyawarah mufakat hingga keadilan sosial bagi anggota.
Dalam konteks ini, nama Abdul Rahman, wartawan UKW Madya, mulai mencuat sebagai salah satu sosok yang konsisten menunjukkan semangat etika dan pengabdian di tengah dinamika profesi. Ia dikenal tidak hanya karena pengalamannya meliput isu-isu strategis, tetapi juga karena kesediaannya membagi ilmu dan membimbing rekan-rekan jurnalis muda tanpa pamrih.
Abdul Rahman bukan figur yang mengejar panggung. Tapi di saat yang sama, ia adalah sosok yang selalu hadir dalam kerja-kerja sunyi peningkatan kapasitas. Ia percaya bahwa profesionalisme tidak tumbuh dari gelar, tapi dari proses pembelajaran dan keberanian menjaga nilai.
Dalam sebuah diskusi terbatas, Abdul Rahman pernah mengatakan:
“Kalau organisasi ini ingin maju, maka pengurusnya harus punya nurani, bukan sekadar strategi. Karena kita bicara tentang orang-orang yang bekerja di medan realitas, bukan di ruang rapat semata.”
Ucapan itu menjadi pengingat bahwa Konpercab bukan sekadar seremoni, tetapi titik tolak transformasi. Ketua PWI harus mampu membangun komunikasi yang sehat antaranggota, memperjuangkan pelatihan berkala, membuka ruang UKW yang terjangkau, dan menciptakan iklim jurnalisme yang kritis namun santun.
Nilai-nilai Pancasila, kemanusiaan, keadilan, kebersamaan harus menjadi napas organisasi, bukan hanya slogan di baliho.
Kini, publik, anggota PWI, dan komunitas pers menanti. Bukan siapa yang paling ramai disebut, tetapi siapa yang paling siap membawa perubahan.
Karena seperti halnya Pancasila, kepemimpinan yang bermartabat tidak lahir dari kompromi kepentingan, tetapi dari keberanian memegang prinsip.





























