PAREPARE, Kembaroginews.com — Di balik meriahnya Pawai Budaya Parepare 2025, ada semangat besar yang berdenyut dari langkah-langkah kecil anak-anak berpakaian adat. Di sepanjang rute sejauh satu kilometer, mereka bukan sekadar berbaris. Mereka sedang mewariskan cerita.
Nabila, siswi kelas 6 SD, mengenakan pakaian adat Kajang lengkap dengan sarung hitam dan ikat kepala khas. Wajahnya serius, tapi sorot matanya penuh kebanggaan. “Guru bilang, ini baju nenek moyang saya,” ujarnya pelan.
Di barisan lain, rombongan SMP memperagakan prosesi adat Bugis “Mappendre Bottimg”—simbol perjalanan pengantin pria menuju rumah mempelai wanita. Mereka membawa hasil bumi, perlengkapan rumah tangga, hingga rangkaian sirih pinang. Semua dilakukan dengan detail yang mencerminkan pemahaman budaya, bukan sekadar penampilan.
Yang menarik, anak-anak ini tidak hanya mengenakan budaya—mereka memerankannya. Tarian adat Toraja dibawakan dengan luwes, sementara kelompok lain tampil sebagai nelayan Bugis, membawa miniatur kapal dan hasil laut. Kreativitas bertemu tradisi dalam kemasan yang menyentuh.
Bagi orang tua dan guru, ini adalah kemenangan budaya atas derasnya modernisasi. “Mereka tidak hanya tampil, mereka belajar asal-usulnya, sejarahnya, bahkan makna tiap gerakan tari,” ujar Ibu Rahma, guru pendamping.
Pawai budaya kali ini membuktikan, bahwa identitas tak pernah hilang—selama masih ada generasi yang mau memeluknya.































