Satu-satunya Dari Parepare, Naomi Sampeangin Terima Penghargaan Nasional 95 Perempuan Tangguh Dan Inspiratif

banner 120x600

Kembaroginews.com, Parepare – Empat puluh tahun lebih berkarya dalam kegiatan sosial kemanusiaan, Naomi Sampeangin, wanita yang tergolong usia lanjut ini tidak pernah lelah dan bahkan bosan untuk menolong siapa pun yang membutuhkan bantuannya. Mulai dari para lanjut usia, orang muda, remaja, ibu hamil dan anak-anak hingga Orang Dengan Gangguan Jiwa tidak luput dari perhatian wanita usia 72 tahun ini.

Dari sekian karya sosial kemanusiaan yang dilakoninya, perannya dalam mendampingi dan memberdayakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) kerap mendapat sorotan publik di level lokal, wilayah bahkan hingga di tingkat nasional.

Dedikasinya yang begitu besar bagi orang-orang kecil dan terlantar, disorot oleh PT Pertamina Fuel Terminal Parepare yang kemudian berupaya memberikan dukungan dan fasilitasi Oma Naomi melalui program CSR. Lebih dari itu, PT Pertamina lantas memfasilitasi Oma Naomi dalam proses pendirian Yayasan Cahaya Pelita Sehati yang membantu kemudahan Oma Naomi meningkatkan pelayanannya. Sampai saat ini, Oma Naomi, yang juga Ketua Yayasan Cahaya Pelita Sehati telah memiliki sejumlah kader yang siap membantu dalam karya sosial kemanusiaannya.

Hampir semua kegiatan Oma Naomi difasilitasi oleh PT Pertamina, karena perhatian dari pemerintah Kota Parepare dan bahkan Provinsi masih belum maksimal. Harapan Oma Naomi, pemerintah kelak berkenan untuk memfasilitasi pendirian rumah singgah bagi ODGJ di Kota Parepare, yang selama ini terus diperjuangkan Oma Naomi.

PT Pertamina Fuel Terminal Parepare terlibat aktif dalam memberikan dukungan dan pendampingan hingga Oma Naomi masuk dalam bilangan salah satu “Local Hero” dalam event Nasional yang diadakan PT Pertamina di Yogyakarta.

Untuk sementara dan sudah beberapa tahun, rumah kediaman Oma Naomi, yang sederhana dijadikan sebagai rumah singgah ODGJ dan sejumlah kegiatan sosial dan kesehatan lainnya. Ia bahkan menampung salah seorang ODGJ yang ditolak keluarga untuk tinggal bersamanya. Oma Naomi juga memasukan ODGJ yang dirawatnya tersebut ke dalam Kartu keluarganya.

Banyak kesaksian masyarakat Kota Parepare yang mengakui kharisma Oma Naomi dalam menangani ODGJ, termasuk dari kalangan pemerintah, mulai dari Satpol PP, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan hingga Wali Kota Parepare, mengakui peran Oma Naomi. Sebab itu, wanita yang terus beranjak tua ini kerap dipanggil untuk menangani ODGJ, ketika pemerintah mengalami kendala. Oma Naomi sampai siap mempertaruhkan nyawanya menenangkan ODGJ yang mengamuk dengan memegang sebilah parang atau senjata tajam. Kasih sayang dan cintanya pada ODGJ tidak membuatnya gentar dan takut menghampiri para ODGJ.  Ini kemudian membuatnya dijuluki sebagai Bunda ODGJ, karena beberapa ODGJ memanggilnya dengan sebutan “mama”.

Ketika ditanya oleh wartawan, Oma Naomi menjawab, “Kasih kepada Allah yang mendorong saya untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan.” Kasih itu merupakan wujud dari kasih Allah kepada manusia.  Oma Naomi mengakui bahwa apa yang ia lakukan bagi orang-orang terlantar, itu ia lakukan untuk Allah. Ia benar-benar menemukan wajah Allah dalam diri mereka yang ia tolong dan ia dampingi.

Kiprahnya yang begitu luar biasa, kemudian mendapat perhatian dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia yang kemudian memilihnya masuk dalam bilangan “95 Perempuan Tangguh dan Inspiratif” dalam Pendaran Cahaya Kongres Perempuan Indonesia 1928, yang dilaksanakan tahun 2023 baru-baru ini. Naomi Sampeangin menerima penghargaan  “95 Perempuan Tangguh dan Inspiratif” berupa trophy dan buku berjudul “95 Perempuan Tangguh dan Inspiratif” dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Dalam penghargaan tersebut, Oma Naomi Sampeangin masuk dalam deretan perempuan-perempuan sekelas Megawati Soekarno Putri, Nacwa Sihab, Sri Mulyani Indrawati, Retno L.P. Marsudi, Siti Nurbaya Bakar dan sejumlah perempuan tangguh lainnya di seluruh Nusantara.

“Buku terbitan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia ini, sebagai kado spesial Hari Ibu 2023, dibimbing langsung oleh Ibu Menteri Bintang Puspayoga dan jajaran. Penggarapannya melibatkan para wartawan, penulis, aktivis perempuan, dan akademisi perempuan yang selama ini melakukan kerja-kerja pemajuan
perempuan,” ungkap Yusuf Susilo Hartono, salah satu Editor Buku “95 Perempuan Tangguh dan Inspiratif”.

“Titik berangkat memilih 95 nama perempuan tangguh dan menginspirasi itu, justru dengan terlebih dahulu menengok
ke belakang, menyusuri jejak sejarah KPI I-IV dan rumusan-rumasannya, sekaligus untuk mendapatkan bayangan
kriteria sosok perempuan seperti apa yang diperlukan dalam buku ini,” jelasnya lebih lanjut.

Oma Naomi Sampeangin satu-satunya perempuan dari Kota Cinta Habibie-Ainun, Parepare, mengukir sejarah sebagai salah satu Ibu Bangsa dalam Lintasan Sejarah Indonesia.

“Kami melakukan penjaringan, baik melalui media sosial (open call) terjaring 300 lebih pendaftar, dan usulan dari para
wartawan tim penulis, serta para ahli yang menjadi narasumber, masuk sekitar 200-an nama. Dari jumlah itu, dilakukan
proses seleksi dan verifikasi, sampai akhirnya diputuskan oleh Tim Penetapan. Itu pun ada saja masalah di lapangan
sehingga memerlukan kebijakan secara arif,” urai Yusuf Susilo Hartono.

Lanjutnya, “Walhasil, proses seleksi hingga penetapan tersebut, berpegang pada lima kriteria pokok : 1) perempuan Indonesia (termasuk di dalamnya difabel) berusia miminum 20 tahun yang mengembangkan kegiatan dengan capaian tinggi, luar biasa, dan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat dan bangsa; 2) tidak berperilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila, terutama komitmen terhadap kebhinekaan dan keberagaman; 3) konsisten pada nilai-nilai kemanusiaan terutama nilai kesetaraan gender serta upaya-upaya pemajuan bangsa; 4) tidak terlibat korupsi,
narkoba, dan berbagai bentuk pidana kekerasan lainnya, dan 5) tidak menganut radikalisme, ekstrimisme dan terorisme,” ungkapnya lagi.

Satu keunikan yang dimiliki Oma Naomi Sampeangin ialah ia bukanlah wanita bergelar akademik, ia bahkan memiliki pola hidup yang sederhana bersahaja, ia juga bukan seorang kaya dan memiliki jabatan dan kuasa, namun pelayanannya justeru patut diberikan apresiasi oleh berbagai pihak, terutama oleh pemerintah, termasuk pemerintah Kota Parepare dan Provinsi Sulawesi Selatan. Apa yang ia lakukan, mungkin tidak istimewa, karena hanya berbekalkan kerelaan Kasih Sayang, justeru ia mampu menginspirasi bahwa mencintai kemanusiaan itu adalah suatu karya cinta tanpa batas dan sekat. Semoga ke depan lahir naomi-naomi lainnya yang akan meneruskan karya beliau. Sebuah karya tanpa batas!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PNFPB Install PWA using share icon

For IOS and IPAD browsers, Install PWA using add to home screen in ios safari browser or add to dock option in macos safari browser