Transaksi Seks Menjamur Dengan Aplikasi MiChat

banner 120x600

KembarogiNews.com, Parepare – Kota Parepare merupakan salah satu kota terpopuler di Sulawesi Selatan; dalam banyak hal, Kota Parepare telah memiliki kemajuan yang cukup memuaskan yang tampak dari keramaian pengunjung dari berbagai daerah yang singgah di Kota yang terkenal sebagai Kota Cinta Sejati Habibie Ainun.

Bukan hanya itu, Kota Parepare memiliki kawasan wisata yang unik dan menarik membentang hampir di setiap sudut dan pusat kota. Tentu saja, semua itu membanggakan masyarakatnya. Dari letaknya yang sangat strategis, sebagai pusat transit di wilayah Sulawesi Selatan, Kota Parepare nyaris tidak pernah sepi pengunjung yang ingin melakukan perjalanan.

Kota yang menjadikan Presiden RI ke-3 sebagai inspirasi pembangunan ini ternyata tidak luput dari hal-hal yang berkaitan dengan “dunia malam”. Tim investigasi KembarogiNews.com melakukan penelusuran di beberapa lokasi yang kerap dijadikan tempat mangkal wanita dan waria penjaja seks. Para penyuka pria hidung belang itu sering terlihat saat menjelang tengah malam hingga dinihari.

Lebih dari itu, transaksi seksual di Kota Parepare ini bahkan sudah menggunakan aplikasi canggih, yakni MiChat yang mudah didapatkan setiap orang hanya dengan mengunjungi google playstore. Aplikasi yang sebenarnya hanya untuk mencari sahabat dan teman itu, ternyata sudah beralih fungsi menjadi aplikasi transaksi seksual.

Tim investigasi menyusuri secara detail dengan mencoba masuk dalam aplikasi tersebut, dan benar bahwa aplikasi itu sangat efektif dan dirasa aman untuk mencari lawan main sex. Dari telusuran tim, tarif yang dikenakan oleh para pelaku seks tersebut berkisar Rp. 200.000 hingga Rp. 1.000.000; namun rata-rata penawaran yang sering disepakati sekitar Rp. 600.000 hingga Rp. 300.000 dengan pilihan fullservice 1 hingga 5 jam.

Sementara itu para pelaku pekerja seks tersebut rata-rata berusia 18 tahun sampai 30 tahun, namun sebagian besar berusia 20-25 tahun.

Menariknya bahwa, lokasi eksekusi kesepakatan yang sudah deal dari transaksi seksual berada di sejumlah hotel yang notabene memberikan ijin untuk penggunaan transaksi seksual dengan penarikan biaya kamar. Bahkan beberapa pekerja seks diantaranya sudah seperti memiliki kamar privasi sendiri yang sudah ia booking.

Tim coba mendalami apa yang sebenarnya menjadi pemicu di balik itu semua. Tim menemukan bahwa pada umumnya, para penjaja seks tersebut terbelit oleh kesulitan ekonomi, sehingga terpaksa harus melakoni pekerjaan haram tersebut. Hanya segelintir yang mengaku terpaksa melakukan pekerjaan ini karena berpisah dari pasangan hidupnya. Bahkan sebagian diantara mereka merupakan penduduk asli Kota Parepare dan daerah di sekitar Ajatappareng.

Apakah ini yang dinamakan dengan dampak dari kemajuan teknologi digital smartphone? Dapat saja dikatakan begitu karena efeknya sungguh terasa sekali dimana ketika seseorang mengalami kesulitan memenuhi biaya hidupnya, ia dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di satu sisi, publik tidak dapat begitu saja mempersalahkan, di sisi lain mereka telah melakukan pelanggaran etika hidup dan moral agama. Hal ini perlu menjadi perhatian para pemangku kekuasaan di negara ini untuk memberdayakan para pekerja seks tersebut dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kemaslahatan hidup.

Tim mengakhiri perjalanan investigasi dengan keprihatinan terhadap disfungsi sosial, dimana seolah-olah lingkungan sekitar sudah bersahabat dengan praktik-praktik demikian. Suatu pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk mengatasi persoalan asusila yang semakin menjamur dengan aplikasi MiChat tersebut. Jika hal ini dibiarkan terus berkembang, berapa generasi lagi yang akan ternodai dengan praktik tersebut. Butuh komitmen bersama masyarakat dalam memberantas transaksi pekerjaan haram tersebut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PNFPB Install PWA using share icon

For IOS and IPAD browsers, Install PWA using add to home screen in ios safari browser or add to dock option in macos safari browser